lomba budaya daerah merupakan salah satu upaya
Halini disampaikan oleh Kabid Penaiszawa Kantor wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan Abdul Gaffar ketika membuka kegiatan lomba Pemilihan Penyuluh Teladan Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Grand Town Maros, Jumat 5 Agustus 2022. Lebih lanjut mantan Kakan Kemenag Pare-pare ini mengatakan bahwa Penyuluh yang profesional tidak
Budayalokal adalah salah satu warisan budaya yang merefleksikan identitas suatu kota. Upaya pelestarian diperlukan untuk melindungi warisan sejarah sehingga generasi yang akan datang masih dapat menyaksikan sejarah perkembangan kotanya (Widanirmala M, Khadiyanto P, 2013). Batik merupakan salah
Bukuini merupakan salah satu dari sepuluh naskah terbaik Lomba Penyusunan Bahan Literasi kategori Pramembaca yang diselenggarakan Balai Bahasa DIY tahun 2019. Buku ini menceritakan Nana dan Lala yang saling berbagi cerita dalam pertemanan mereka.
Websiteini terbaik dilihat dengan browser Internet Explore 11, Google Chrome 48, Mozilla Firefox 43, atau yang terbaru.
Mengutipdari jurnal Upaya Melestarikan Budaya Indonesia di Era Globalisasi, Hildigardis (2019) melalui laman pada 18/8/21), pelestarian budaya merupakan salah satu upaya agar budaya daerah tidak tergantikan dengan budaya luar negeri, yakni dengan cara mempertahankan nilai-nilai seni budaya ataupun dengan
Welche Dating Seite Ist Komplett Kostenlos. TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan atau Disparbud Lamongan membebaskan para pelukis Kota Tahu Campur untuk mengeluarkan imajinasi melukis Sejarah dan Budaya Lamongan. Tak hanya itu, lomba yang diselenggarakan Disparbud Lamongan itu juga bertujuan untuk mengenalkan cagar budaya, sejarah dan kesenian melalui seni lukis serta menggali potensi seniman lukis di Kabupaten Lamongan. Advertisement Lomba yang digelar dari Dana Alokasi Khusus DAK Non Fisik museum ini diikuti oleh 15 peserta dari kategori umum dengan syarat peserta harus berdomisili Lamongan dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk KTP. "Karya lukisan mereka harus memuat tiga unsur yakni cagar budaya, kesenian dan koleksi Museum Sunan Drajat," kata Siti Rubikah, Kepala Disparbud Lamongan, Selasa 6/12/2022. Rubikah mengungkapkan, penilaian lomba lukis tersebut diserahkan sepenuhnya kepada tim juri yang berasal dari Dewan Kesenian Lamongan DKL, media serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim. Menurutnya, yang terpenting tidak keluar dari 4 empat kriteria yang menjadi juknis yang telah ditetapkan serta karya harus original tanpa adanya plagiasi. "Kami berharap para seniman lukis Lamongan dapat menghasilkan karya yang nantinya dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Lamongan di kancah nasional maupun internasional," ujarnya. Sementara itu salah satu Tim Juri Lomba Lukis Sejarah dan Budaya Lamongan, Sadari dari UPT Museum Negeri Mpu Tantular mengatakan, tema yang diberikan panitia Disparbud Lamongan luar biasa. Apalagi, jelas Sadari, harus menampilkan unsur cagar budaya, kesenian dan koleksi museum yang ada di Sunan Drajat Lamongan. "Dalam memberikan penilaian, tentunya harus ada pertimbangan-pertimbangan yang kita berikan. Terutama ada ide, sesuai dengan tema, teknik dan keunikan lukisan," ucap Sadari. Selain Cagar Budaya, kesenian, dan koleksi museum Sunan Drajat Lamongan, dikatakan Sadari, terdapat beberapa unsur yang harus diperhatikan oleh pelukis dalam menggiring dan memindahkan objek alam ke dalam kanvas dua dimensi. "Intinya melukis itu beda dengan memahat. Jadi yang menjadi prioritas dalam seni lukis itu komposisi proporsi warna, garis, bidang, anatomi dan teknik pengerjaan," tuturnya. Tentunya seorang seniman sudah memiliki gambaran imajinasi ketika menekuni sebuah seni lukis, menurutnya, lomba lukis Sejarah dan Budaya Lamongan ini sebuah tantangan bagi mereka. "Ketika dibebaskan, mereka akan dipaksa berimajinasi untuk memindahkan sebuah objek alam ke bidang kanvas 2 dimensi. Sehingga akan muncul style mereka, mulai dari model halus, ekspresif dan spontan. Bahkan objek tersebut bisa terlukis secara emosional, sehingga nampak seperti lukisan abstrak," ujarnya. Setelah dilaksanakan penilaian dari tim juri, dihasilkan 5 peserta yang meraih nilai terbaik dari pelukis lainnya. Kelima peserta tersebut, diantaranya Sjahidul Haq Chotib peraih juara I dengan skor 285, Desi Catur W peraih juara II dan Pamuji peraih juara III. Sedangkan dua peserta lainnya, Yani Dwi Jayanti peraih harapan I dengan skor 266 dan M. Diva Sifa Wibowo peraih harapan II dengan skor 261. Yoyok Eko Prastyo yang juga selaku tim juri Lomba Lukis Sejarah dan Budaya Lamongan mengatakan, hasil karya Sjahidul Haq Chotib unggul dari peserta lainnya. Karena dirinya berhasil memunculkan ide memadukan Kapal Van der Wijck dengan beberapa icon Lamongan. Bahkan kapal tersebut terlihat lebih ekspresif. "Dia berhasil memadukan kapal Van der Wijck dengan Gapuran Paduraksa, tari boranan dan museum peninggalan Sunan Drajat," kata Yoyok. Selain itu, ungkap Yoyok, peraih juara I Lomba Lukis Sejarah dan Budaya yang diselenggarakan Disparbud Lamongan itu memiliki teknik melukis yang beda dari peserta lainnya. "Dia mengunakan teknik dusel, sehingga kesan abstrak yang muncul juga kuat dari karyanya," ujar Yoyok. *** Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Hasil-hasil pendokumentasian lewat film-film pendek tersebut diharapkan nantinya dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi generasi saat ini maupun generasi yang akan datang. Pembelajaran melalui media audio visual akan menarik jika disajikan dalam bentuk dokumentasi film yang juga dirancang dan diwujudkan dalam penyampaian yang menarik. “Movie merupakan salah satu cabang seni yang menggunakan media rekam sebagai alat untuk menyampaikan dan mewujudkan gagasan. Dari aspek fungsi pic juga dapat berfungsi sebagai media informasi, pendidikan dan dokumentasi. Melalui karya film tersebut, diharapkan apresiasi generasi muda terhadap keanekaragaman dan penanaman nilai positif dalam kebudayaan dapat terwujud,” ujar Zulkarnain. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan para generasi muda tentang Warisan Budaya Tak Benda, seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang mana menempatkan masyarakat sebagai pemilik dan penggerak kebudayaan. Masyarakat sebagai pelaku aktif kebudayaan, dari tingkat komunitas hingga industri serta merupakan pihak yang paling akrab dan paling paham tentang kebutuhan dan tantangan untuk memajukan ekosistem kebudayaan. Siak 2022″ id=”subfotofull” src=” Zulkarnain Al Idrus Dengan kegiatan ini, Disdikbud Siak berharap lahir para sineas handal di Siak sebagai upaya melestarikan budaya melayu. Lalu bisa meningkatkan pemahaman masyarakat dan para generasi muda tentang Warisan Budaya Tak Benda. Kemudian sebagai media pembelajaran untuk generasi saat ini dan generasi yang akan datang, dan bisa menjadi media yang memperkenalkan seni daerah, mempromosikan, dan menyebarluaskan produk karya seni daerah khususnya moving-picture show yang bernuansa Melayu di Kabupaten Siak. Ada beberapa subtema yang dipilih oleh peserta dalam festival ini dengan tema besar Warisan Budaya Tak Benda di wilayah Kabupaten Siak. Yakni bisa berupa tradisi lisan, manuskrip, adat-Istiadat, ritus, seni, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, bahasa, permainan rakyat, juga olahraga tradisional. Menurut lelaki yang suka menulis pantun ini, dunia film di Siak lumayan hidup dengan para penggerak anak-anak muda seperti Vicky Dawingga, Deni Irawan, Deri Agnes, Ryan Ronald, Joko Saputra, Arman Agusta, Wak Salim, Dewi Citra Lestari, dll. Umumnya mereka adalah para kreator yang mengunggah video mereka di media sosial. Tak semua dari mereka tinggal di Kota Siak Sriindrapura. Mereka tinggal di beberapa kecamatan seperti Sungai Apit, Tualang, Mempura, Pusako, dan kecamatan lainnya. “Ini memperlihatkan bahwa geliat sinematografi di Siak merata di semua kecamatan,” jelas Zulkarnain lagi. Untuk bisa mengadakan festival ini, dia bekerja keras meyakinkan atasannya karena banyak yang menganggap festival seperti ini kurang banyak peminatnya. Namun dengan keberhasila festival ini –dengan jumlah peserta yang relatif banyak dan menyebar di hampir semua kecamatan— dia yakin festival ini akan didukung penuh oleh Pemkab Siak. *** RYAN Ronald Saputra mengucapkan syukur saat moving picture yang disutradarainya, Tonong, menjadi juara I Festival Film Pendek Siak 2022 ini. Acara penyerahan hadiah berlangsung seusai upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Siak pada Rabu 12/10/2022. Bupati Siak, Drs H Alfedri MSi, yang langsung menyerahkan hadiah kepada para pemenang, termasuk kepada Ryan dkk. Ryan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam lahirnya film Tonong tersebut. Mereka adalah para kru yang terdiri dari pemain, penulis naskah, kameramen, dan lainnya. Menurutnya, kerja bersama ini cukup berat dan melelahkan, tetapi terobati dengan terpilihnya Tonong menjadi juara I. Secara khusus Ryan juga mengucapkan terima kasih atas dukungan pihak Pemerintah Kampung Tualang, yakni Kepala Kampung Juprianto SSos M IP. Kemudian anggota DPRD Siak Dapil Tualang, Zulkifli SSos MSi dan H Musar SH, yang selama ini selalu mendukung kreativitas Intan Payung Studio dan dirinya secara pribadi dalam menghasilkan karya. “Kami memang harus bekerja keras dalam pembuatan picture Tonong ini. Lumayan berat karena yang kami buat tentang kebudayaan Melayu. Harus detil dalam riset agar tak terjadi kesalahan,” jelasnya kepada Riau Pos, Selasa 12/10/2022 lalu. Menurut lulusan Fakultas Ilmu Budaya FIB Universitas Lancang Kuning tahun 2019 ini, festival ini sangat membantu menggairahkan kembali dunia perfilman Siak setelah ambruk akibat pandemi corona. Menurutnya, nyaris tak ada kegiatan di saat wabah itu berlangsung karena semuanya harus dikerjakan dan dilakukan di dalam rumah. Ryan dan kawan-kawan juga tak banyak melakukan kegiatan selain sekali-kali membuat konten untuk media sosial. Dengan banyaknya peserta yang ikut festival dan lomba ini, menurutnya, merupakan langkah awal yang sangat besar untuk kemajuan dunia film Siak, juga Riau. Bahkan dia sangat salut dengan beberapa peserta yang masih sekolah setingkat SMTA yang sudah membuat film pendek. Ryan juga memuji panitia yang dengan baik menyelenggarakan festival ini. Mulai dari informasi yang jelas, respon yang cepat ketika panitia meminta penjelasan berbagai hal, syarat dan aturan yang sangat tegas, sudah mirip festival tingkat provinsi maupun nasional. “Semuanya sudah bagus dan hadiahya cukup besar. Harapan kami para sineas ini, kalau bisa dalam penyelenggaraan selanjutnya kategorinya ditambah selain film terbaik. Mungkin ada kategori sutradara terbaik, penulis naskah terbail, aktor dan aktris terbaik, dan kategori lainnya. Ini hanya masukan,” jelas lelaki 29 tahun ini. Ryan menjelaskan, Intan Payung Studio yang dia Kelola, sebenarnya bergerak di bidang jasa foto dan video pernikahan dan pembuatan company profile sejak tahun 2016. Namun selain kegiatan rutin itu, dia bersama teman-temannya juga sering membuat konten untuk media sosial, juga beberapa film. Beberapa filmnya antara lain Secercah Cinta di Tanah Rokan yang menjadi juara harapan I pada Festival Pic Pendek Pariwisata Riau 2021. Picture show lainnya adalah Pikat, yang meraih juara harapan II pada Festival Movie Pendek Pariwisata Riau 2022. Tonong adalah moving picture ketiganya yang meraih penghargaan. Di luar itu ada beberapa moving picture yang dibuat yang tidak diikutkan dalam festival atau lomba. Dalam film Tonong ini, Ryan sangat terbantu dengan kinerja penulis skenario Hermanto Tuah Tualang yang juga ikut bermain dalam flick ini, Managing director of Photography Vinza Pramana Putra dan kru lainnya, juga para pemain seperti Retha Renielti, Puan Erni Rasyd, Ajib Hanum Prianda, Tarmizi, Raina, dll. “Bagi kami, ini pencapaian besar, karena diraih dari kerja keras semua orang yang terlibat,” jelas Ryan lagi. Bupati Siak, Drs Alfedri, sangat antusias dengan festival ini. Orang nomor satu di salah satu kabupaten yang lahir di era Reformasi ini terkejut dengan banyaknya peserta yang ikut. Menurutnya, untuk daerah kabupaten seperti Siak, ada 18 motion-picture show yang ikut dalam festival ini, sangat banyak. Itu menandakan dunia sinematografi di Siak sudah maju. Apalagi peserta banyak yang berasal dari kampung/desa di berbagai kecamatan. Dia berharap festival ini terus diselenggarakan di masa datang dengan peningkatan mutu dan dan berharap pesertanya semakin banyak. “Ini kegiatan yang luar biasa dan sangat positif bagi dunia anak muda dan kesenian di Siak. Saya mendukung kegiatan ini dan ke depan harus diselenggarakan lagi. Semoga semakin banyak pesertanya dan juga kualitasnya,” ujar Alfedri saat memberikan hadiah kepada para peserta. Ini sebuah tantangan bagi para sineas di Siak untuk terus berkreasi dan inovasi. Juga bisa menjadi contoh bagi kabupaten/kota lain di Riau untuk menyelenggarakan kegiatan yang sama agar dunia film di Riau terus bergelora dan menghasilkan para sineas dan film yang berkualitas.*** Laporan HARY B KORIUN, Siak
PENERAPAN protokol kesehatan pada masa adaptasi kebiasaan baru harus tetap dilaksanakan agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan produktif dan aman dari potensi penularan covid-19. Berbagai upaya telah dilakukan Gugus Tugas Nasional untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai protokol kesehatan. Ini tidak hanya menjadi suatu peraturan yang harus dipatuhi namun menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat sebagai adaptasi kebiasaan baru. Mendukung upaya percepatan penanganan covid-19 dengan adaptasi kebiasaan baru, pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri Kemendagri menyelenggarakan program Lomba Inovasi Daerah sebagai sarana edukasi dan sosialisasi tentang penerapan adaptasi kebiasaan baru secara bersama-sama oleh setiap daerah. Baca juga Pemerintah Tetap Fokus ke Kesehatan dan Ekonomi Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan Lomba Inovasi Daerah merupakan suatu sarana mengedukasi dan menyosialisasikan protokol kesehatan di berbagai sektor pada masa adaptasi kebiasaan baru. "Lomba Inovasi Daerah yang melibatkan pemerintah daerah merupakan sarana mengedukasi dan menyosialisasikan bagaimana adaptasi kebiasaan baru di berbagai sektor dan aktivitas kehidupan," kata Tito. Tito berharap Lomba Inovasi Daerah ini bisa menjadi gerakan yang dilakukan secara masif sehingga masyarakat menjadi paham dan mengetahui apa yang harus dilakukan demi keselamatan bersama. "Kegiatan ini Lomba Inovasi Daerah dapat menjadi gerakan yang dilakukan secara masif sehingga seluruh masyarakat jadi paham dan tahu apa yang sebaiknya dilakukan demi keselamatan bersama," ungkap Tito. Hal itu juga diperjelas oleh Pelaksana Tugas Plt Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal bahwa tujuan utama Lomba Inovasi Daerah adalah memberikan edukasi yang diharapkan menjadi pengetahuan lebih baik untuk menekan potensi penularan covid-19. "Tujuan utamanya memberikan edukasi dengan harapan pemberian edukasi yang semakin baik, masyarakat juga memperoleh pengetahuan dengan lebih baik," jelas Safrizal dalam dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta 14/7. Selanjutnya, Safrizal menjelaskan Lomba Inovasi Daerah juga menjadi salah satu upaya untuk memastikan masyarakat paham tentang protokol kesehatan. "Kalau masyarakat teredukasi, mengetahui cara hidup yang aman dan menerapkannya, akan terhindari dari potensi terpapar risiko penularan Covid-19," sebutnya Safrizal turut menjelaskan mengenai dana 168 miliar sebagai bentuk penghargaan kepada pemerintah daerah yang sempat menjadi perbincangan. Dana tersebut merupakan dana negara yang termasuk dana insentif daerah yang sebelumnya telah ada dan dianggarkan. "Dana 168 miliar ini merupakan dana negara, bukan dana pribadi Mendagri. Ini termasuk dana transfer daerah yang disebut dana insentif daerah. Sebelumnya juga sudah ada dan dianggarkan Kementerian Keuangan, hanya saja di masa pandemi ini dibuat suatu kategori baru yaitu kategori inovasi dalam pra kondisi hidup di tengah pandemi Covid-19 yang harapannya tentu digunakan untuk menolong masyarakat," ungkap Safrizal. Terakhir, Safrizal kembali mengimbau pemerintah daerah dapat mengedukasi publik, melakukan pengawasan dan kontrol secara ketat, menggerakan serta berkolaborasi bersama masyarakat untuk saling peduli dan mengingatkan dalam melaksanakan protokol kesehatan dengan disiplin sehingga upaya menekan penularan covid-19 tidak hanya menjadi keberhasilan suatu daerah saja namun menjadi keberhasilan bangsa Indonesia. OL-1
lomba budaya daerah merupakan salah satu upaya